Senin, 20 November 2023 | 15:19 WIB
NGAMPRAH – Kabupaten Bandung Barat (KBB) tengah menghadapi krisis air bersih akibat kemarau panjang imbas fenomena El Nino. Ironisnya, meski memiliki banyak sumber mata air, sebagian besar justru dimanfaatkan ke luar daerah tanpa memberikan manfaat yang jelas bagi masyarakat maupun Pemda KBB.
Data BPBD mencatat, 8 dari 16 kecamatan di Bandung Barat terdampak krisis air bersih, dengan 190 RW mengajukan bantuan sepanjang Juni–Oktober 2023. Dampak lain juga terlihat pada sektor pertanian, di mana 178 hektare sawah di Batujajar, Cililin, Sindangkerta, dan Cihampelas mengalami kekeringan.
Pj. Bupati Bandung Barat, Arsan Latif, menegaskan bahwa seharusnya masyarakat KBB menjadi pihak yang paling merasakan manfaat sumber air di wilayahnya. Namun kenyataannya, distribusi air lebih banyak dialirkan ke daerah lain tanpa perjanjian bagi hasil yang jelas.
Sebagai langkah awal, Arsan melakukan peninjauan ke sejumlah sumber mata air, salah satunya Curug Leuwilayung di Desa Karyawangi. Ia menilai potensi sumber daya air sangat besar, hanya saja pengelolaannya belum optimal.
Pemda KBB berkomitmen mencari solusi jangka pendek dalam dua minggu ke depan untuk memenuhi kebutuhan air warga secara gratis. Sementara untuk jangka panjang, pemerintah akan membuat bak penampungan, saluran distribusi (pipanisasi), serta meninjau ulang kerja sama dengan PDAM Kota Bandung dan Kabupaten Bandung yang selama ini memanfaatkan air dari Cisarua dan Parongpong.
“Kami akan mengkaji ulang seluruh perjanjian agar masyarakat Bandung Barat benar-benar merasakan manfaat dari sumber daya air yang ada,” tegas Arsan.








Komentar
Tuliskan Komentar Anda!