15 Titik Rawan Macet dan 6 Jalur Rawan Kecelakaan Dipetakan Jelang Mudik di Bandung Barat

15 Titik Rawan Macet dan 6 Jalur Rawan Kecelakaan Dipetakan Jelang Mudik di Bandung Barat

Bandung Barat, Kabbar.my.id — Kabupaten Bandung Barat diprediksi menjadi salah satu wilayah dengan tingkat kepadatan lalu lintas tinggi selama arus mudik dan arus balik Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah. Kondisi ini mendorong pemerintah daerah melalui Dinas Perhubungan untuk melakukan pemetaan titik rawan kemacetan dan kecelakaan guna mengantisipasi lonjakan kendaraan.

Berdasarkan hasil pemetaan, sedikitnya terdapat 15 titik yang berpotensi mengalami kemacetan selama periode mudik. Titik-titik tersebut tersebar di sejumlah kawasan strategis, terutama di sekitar pasar tradisional, simpang jalan utama, serta jalur wisata yang kerap dipadati kendaraan.

Beberapa lokasi yang diprediksi menjadi titik kemacetan antara lain kawasan Pasar Rajamandala Kulon, Pasar Saguling, Pasar Batujajar, hingga Pasar Tagog Padalarang. Selain itu, simpang-simpang penting seperti BBS–Cipatik, Purabaya, dan Stasiun Whoosh Padalarang juga masuk dalam daftar lokasi rawan kepadatan.

Kawasan lain seperti Gedong Lima, Jembatan Chombipar, Simpang Caringin, Simpang Cimareme, hingga Simpang SPBU Cibogo turut menjadi perhatian karena sering mengalami peningkatan volume kendaraan. Sementara di wilayah utara, kawasan wisata seperti Pasar Panorama Lembang hingga Farmhouse Lembang diperkirakan akan dipadati wisatawan sekaligus pemudik.

Selain titik kemacetan, Dinas Perhubungan juga mengidentifikasi enam ruas jalan yang rawan kecelakaan lalu lintas. Jalur tersebut meliputi Jalan Dago Giri, Jalan Punclut, Jalan Raya Purwakarta, Jalan Raya Cipatat, Jalan Raya Lembang, serta jalur Cipeundeuy–Cikalongwetan.

Karakteristik jalan di sejumlah titik tersebut dinilai cukup menantang bagi pengendara. Beberapa jalur memiliki tanjakan dan turunan curam, tikungan tajam, hingga kondisi penerangan yang minim. Di sisi lain, jalur lurus yang panjang juga berpotensi memicu pengendara melaju dengan kecepatan tinggi, sehingga meningkatkan risiko kecelakaan.

Dinas Perhubungan memastikan bahwa langkah antisipasi telah disiapkan untuk mengatasi potensi tersebut. Pengaturan lalu lintas akan dilakukan secara situasional dengan menyesuaikan kondisi di lapangan, termasuk penerapan rekayasa lalu lintas pada titik-titik tertentu.

Penempatan personel juga akan difokuskan di lokasi-lokasi yang diprediksi mengalami lonjakan kendaraan. Kehadiran petugas diharapkan mampu mengurai kemacetan sekaligus memberikan respons cepat jika terjadi gangguan lalu lintas.

Diperkirakan arus mudik tahun ini akan terjadi dalam dua gelombang utama. Gelombang pertama diprediksi berlangsung pada 14 hingga 15 Maret 2026 seiring kebijakan work from anywhere (WFA), sementara gelombang kedua diperkirakan terjadi pada 18 hingga 19 Maret 2026 yang bertepatan dengan libur Hari Raya Nyepi dan akhir pekan.

Pemerintah daerah mengimbau para pemudik untuk lebih waspada saat melintas di jalur rawan, menjaga kondisi kendaraan, serta mematuhi aturan lalu lintas. Dengan kesiapan yang matang dan kesadaran pengguna jalan, diharapkan arus mudik tahun ini dapat berjalan dengan aman dan lancar.